Aku, Bapak Dan Ombak

December 10, 2018
3 mins

“Masa lalu hanyalah spion untuk melanjutkan perjalanan ke depan yang lebih baik lagi.”

Saat usiaku 11 tahun, aku beberapa kali duduk di tempat ini bersama Bapak. Setidaknya tiga kali dalam setahun saat Bapak datang mengunjungiku untuk membubuhkan tandatangan di raport kenaikan kelasku, Bapak memberiku hadiah jalan-jalan ke tempat ini. 

                    “Ini baru anak perempuan Bapak, juara terus!” katanya seraya menandatangani raport dan berusaha menjangkau kepalaku. Aku mengambil raport itu lalu menghindar pergi sebelum tangan Bapak menyentuh kepalaku. 

Senja hari, Bapak akan memaksaku memberi hadiah jalan-jalan ke tempat ini. Laut dan ombak. Tempat menakutkan yang tidak aku sukai meskipun aku tumbuh di desa pesisir. Ibu sering menakut-nakutiku tentang ombak, air pasang dan orang tenggelam di lautan agar aku tidak keluyuran seperti teman-teman masa kecilku. Karenanya aku ketakutan melihat laut dan ombak. Setiap Bapak mengajakku duduk di sini, aku menahan ketakutan yang parah ombak akan datang menenggelamkan kami. Lalu aku memilih menunduk pura-pura bermain pasir.

“Jadi perempuan jangan penakut. Ombak yang kamu hadapi dalam hidup nanti akan lebih besar,” katanya menarik lenganku mendekat lalu memelukku dari samping. Aku tak pernah nyaman dalam pelukannya. Ada dinding tinggi yang tak terlihat di antara kami.  Kaku dan beku.  Bapak tidak sanggup merobohkan dinding itu dan aku tidak ingin menembusnya. Kami seolah hanya bisa melihat dari seberang tanpa bisa menyentuh kedalaman hati masing-masing.

Lalu matahari memerah dan air laut berubah keemasan. Bapak akan menikmati pemandangan indah itu sambil menghela napas takjub.  Aku tahu, dalam benaknya pasti sudah tersusun kisah-kisah baru yang direkanya sendiri.  Nanti saat manggung wayangan, sebagai Dalang, Bapak akan menyelipkan kisah-kisah rekaannya itu untuk dinikmati penontonnya.  Selain seorang guru, Bapak juga seorang pencerita.

Tidak kusangka, belasan tahun kemudian saya juga suka mereka-reka cerita, menikmati senja dan memburu ombak.  Semua ketakutan tentang ombak, air pasang dan orang tenggelam telah lenyap.  Karena seringkali ombak kehidupan lebih ganas dari ombak di lautan. Aku masih bisa menikmati indahnya senja di lautan, tetapi dalam kehidupan terkadang hanya kegelapan.   

Kini, 12 tahun sudah Bapak pergi.  Lebih dari waktu itu pula aku berusaha menembus dinding diantara kami, dan Bapak berusaha merobohkannya dengan berbagai cara meski terkadang cara itu salah.  Aku tahu, kami telah berhasil.  Aku memaafkannya, mengikhlaskan semuanya dan kemudian jika masih mungkin mencintainya dalam doa. Semoga Bapak memaafkan juga. Tidak ada dinding itu lagi diantara kami.  Bahkan cinta tak perlu banyak dikatakan untuk disebut cinta.  Cinta tak harus selalu bersama untuk disebut ada.  Namun hati kami akan mengikatnya meski alam telah berbeda.

Author and scriptwriter

I’am an author and scriptwriter. Obsessed with exploring the world, meeting new people and getting as lost as possible with my camera.

One Response for this article

  1. on
    Mar 19th, 2019

    Bikin terharu…semoga tempat terbaik di sisi-Nya untuk Bapak

    Hanik Purwanto (kopiduren99.wordpress.com)

    Reply

Leave a Reply

  • (not be published)